Cara ampuh menyembuhkan gendang telinga berlobang

Cara ampuh menyembuhkan gendang telinga berlobang

Cara ampuh menyembuhkan gendang telinga berlobang

Pada awalnya saya tidur siang dan terbangun sore harinya, terasa ada yang aneh ditelinga saya sebelah kiri, seperti terasa sedikit kemasukan air. Karena terasa sangat menggangu saya mengorek-ngorek dengan cutton bud tapi tak kunjung hilang. 
Kemudian saya mencoba cara orang tua dulu, kalau telinga kemasukan air, mereka memasukkan air lagi ketelinga, lalu memiringkan kepala dengan telinga yang dimasuki air di arahkan kebawah sambil memukul-mukul kepala yang di sebelah atas. Tujuannya agar air yang tadinya masuk ketelingan terbawa keluar oleh air yang baru dimasukkan tadi. Namun tetap tidak ada perubahan, karena memang bukan kemasukan air. Hanya rasanya saja seperti kemasukan air.
Cara berikutnya saya coba meniupkan angin dengan kuat ke arah hidung dengan menutup hidung dengan cara dijepit dengan jari seperti membuang lendir ingus. Dengan begitu angin akan mendorong ke arah telinga dan mata (tapi ini tidak dianjurkan), namun tetap tidak ada perubahan.
Dari waktu Ashar hingga hampir Magrib saya hanya mengotak-atik telinga yang terasa sangat tidak nyaman. Bahkan sudah tidak bisa dihitung lagi berapa kali saya korek-korek telinga saya,  hingga tak sengaja mengenai gendang telinga saya.
Habis magrib telinga saya terasa nyeri senut-senut dan keluar cairan encer agak kekuningan bercampur darah. Saya browsing di internet, ternyata itu menandakan gendang telinga ada yang robek. Tapi saya tetap berharap itu bukan tanda gendang telinga yang robek. 
Karena saya tinggal jauh dari kota dan tidak tahu dimana ada spesialis THT. Akhirnya malam itu saya tidur dengan telinga yang terasa nyeri, berharap besok pagi bisa periksa ke Puskesmas terdekat. Ke esokan harinya, telinga saya bagian dalam bukan hanya terasa sakit tapi sudah mulai membengkak, ditambah lagi pendengaran yang terganggu. Sampai di puskesmas saya ambil nomor antrian. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya sampai giliran saya bertemu dokter umum Puskesmas. Dokter bertanya bagaimana awalnya, saya ceritakan secara singkat dari mulai kejadian. Akhirnya telinga saya diperiksa. Saya bertanya apakah gendang telinga saya ada yang robek. Dokternya mengatakan tidak, tapi ada pembengkakan telinga bagian dalam. Akhirnya saya merasa sedikit tenang. Kemudian dokter memberi resep untuk mengambil obat. Saya mendapatkan obat tetes telinga sama obat oral. Dokternya berpesan nanti 3 hari periksa lagi, akhirnya saya pulang berharap bisa sembuh dalam 3 hari. 
Namun selama 3 hari terasa sangat menyiksa, pendengaran tetap terganggu, sakit masih terasa apalagi ketika obat tetesnya dimasukkan. Ternyata ketika ada gangguan telinga sangat berpengaruh pada waktu berkendara apalagi waktu menyebrang, karena kita tidak bisa memperkirakan jarak kendaraan lain di dekat kita, jadi mata harus lebih fokus tengok kanan dan kiri.
Akhirnya 3 hari berlalu, tapi telinga saya tak kunjung sembuh, kembali lagi saya ke Puskesmas dengan sabar antri seperti biasa. Sampai giliran saya, dokternya menanyakan apakah ada perubahan, saya jawab tidak. Kemudian dia memeriksa telinga saya lagi. Tanpa banyak bicara, dia langsung memberikan rujukan untuk ke Rumah Sakit Swasta yang menerima BPJS. Disana ada Dokter THT nya. 
Karena Dokter prakteknya pada malam hari, maka saya berangkat malam itu ke Rumah Sakit yang dimaksud. Setelah menyelsaikan Administrasi pendaftaran kemudian saya dapat nomor antrian. Jam 9 malam Dokternya datang, setelah beberapa pasien akhirnya sampai giliran saya. Seperti biasa Dokter bertanya keluhan dan penyebabnya, cara ceritakan singkat. Setelah diperiksa pakai senter khusus, akhirnya dokter berkata ada pembengkakan telinga bagian dalam dan juga gendang telinga robek kecil, kabar baiknya besar kemungkinan akan menutup kembali. Dengan hati gembira akhirnya saya pulang dengan membawa berbagai macam obat yang diresepkan. Tapi ada yang harus saya tebus yaitu karet penutup telinga, karena tidak termasuk dalam BPJS. Sebelum pulang dokternya menyuruh datang lagi setelah 7 hari untuk kontrol.
Selama 7 hari saya menghabiskan obat yang diberikan, tapi tanpa obat tetes telinga. Karena dokter THT melarang memakai obat tetes, harus dijaga telinga bagian dalam tetap kering. Jadi ketika mandi harus memakai karet penutup telinga yang saya tebus waktu itu. Sakit dan bengkak memang sudah hilang, tapi pendengaran tetap terganggu.
Sampai waktu yang ditentukan, saya berangkat lagi malamnya ke Rumah sakit untuk kontrol kembali, kontrol kedua ini yang membuat saya sangat terpukul, setelah diperiksa lagi oleh dokter.  Dia berkata bahwa telinga saya sudah kering dan tidak ada lagi pembengakakan, tapi ternyata robeknya ada dua, yang terlihatan waktu pertama adalah yang kecil, sekarang ketika bengkaknya hilang terlihat robekan yang kedua digendang telinga saya diperkirakan 20%. Jadi klu ditotal robekannya mencapai 25%. Yang membuat saya terpukul karena dokter berkata itu tidak akan bisa menutup lagi, karena robekannya besar. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga telinga tetap kering agar tidak terjadi gangguan telinga yang membuat robekan membesar. 
Dokter berkata satu-satunya cara untuk mengembalikan adalah dengan operasi telinga di Rumah Sakit Privinsi yang harganya cukup mahal. Akhirnya saya kembali kerumah dengan hati sedih karena divonis telinga kiri saya tidak akan kembali normal 100% kecuali dengan cara Operasi. Karena sudah tidak perlu kontrol lagi saya diberi obat untuk dihabiskan. 
Sambil menghabiskan obat, saya selalu berpikir apakah harus melakukan operasi. Tapi ketika saya browsing, ternyata operasi juga banyak resikonya dan pantangannya, risiko yang paling parah adalah hilangnya pendengaran ketika terjadi infeksi pada gendang telinga yang menyebabkan pembusukan. 
Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan obat alternatif, yaitu dengan meminum minyak zaitun secara rutin 1 atau 2 sendok makan pada waktu pagi dan sore hari. Kadang kalau ada madu asli saya minum madu.  Dan pada malam harinya telinga saya sumbat dengan potongan bawang putih. Dua bulan saya merasakan ketidak nyamanan di telinga kiri saya. Dengan keyakinan kuat akan sembuh disertai doa akhirnya Alhamdulillah setelah dua bulan pendengaran saya normal lagi.
Pertama kali pendengaran saya normal, saya bertanya-tanya dalam hati apakah ini benar-benar normal atau karena saya sudah terbiasa dengan pendengaran yang kurang, sehingga terasa normal.  Ada niat untuk periksa lagi, tapi saya males tak penting apakah sudah menutup lagi atau tidak. Yang penting pendengaran saya normal lagi. Penasaran, saya browsing di internet apakah ada alat pengukur pendengaran normal, dan ternyata ada banyak di Play Store. Saya coba pakai aplikasi “Hearing Tes” ternyata memang hasil grafiknya menunjukkan pendengaran saya Standar Normal.
Demikian pengalaman pribadi saya, karena saya yakin dengan khasiat minyak zaitun walaupun tidak ada pembuktian secara medis. Tapi yang membuat saya yakin karena buah Tiin dan buah Zaitun adalan buah yang jelas disebutkan dalam Al-qur’an. 
Sampai saya menulis artikel ini saya tidak pernah mengecek lagi apakah benar menutup lagi apa tidak tapi Alhamdulillah pendengaran saya masih tetap normal.  
Serba-serbi, 
Buka Komentar

No comments